Senin, 06 Januari 2020

Manusia Makhluk Moral/Tugas 15

Manusia Makhluk Moral
Moral=Akhlak. Menurut saya, moral sama dengan akhlak. Moral merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk perbuatan dan kelakuan (akhlak). Moralisasi, berarti uraian (pandangan, ajaran) tentang perbuatan dan kelakuan yang baik. Demoralisasi, berarti kerusakan moral.
     Menurut asal katanya “moral” dari kata mores dari bahasa Latin, kemudian diterjemahkan menjadi “aturan kesusilaan”. Dalam bahasa sehari-hari, yang dimaksud dengan kesusilaan bukan mores, tetapi petunjuk-petunjuk untuk kehidupan sopan santun dan tidak cabul. Jadi, moral adalah aturan kesusilaan, yang meliputi semua norma kelakuan, perbuatan tingkah laku yang baik. Kata susila berasal dari bahasa Sansekerta, su artinya “lebih baik”, sila berarti “dasar-dasar”, prinsip-prinsip atau peraturan-peraturan hidup. Jadi susila berarti peraturan-peraturan hidup yang lebih baik.
      Akhlak didefinisikan sebagai perilaku, tetapi perilaku harus diulang hanya sekali tidak cukup untuk melakukan perbuatan baik, atau hanya kadang-kadang. Seseorang dapat dikatakan merosot jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi yang kuat dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan terutama pikir pertimbangan sering diulang, sehingga terkesan sebagai suatu keharusan untuk melakukan. Jika hal itu dilakukan oleh dipaksa tidak refleksi dari akhlak.
Manusia yang normal pada intinya mampu mengontrol keputusan susila dan mampu membedakan antara hal-hal yang baik dan buruk. Selain itu juga mampu membedakan hal yang benar dan hal yang salah untuk kemudian mengarahkan hidupnya ke arah tujuan-tujuan yang berarti sesuai dengan pilihan dan keputusan hati nurani dalam mempertimbangkan baik, buruk, salah dan benar.
Manusia adalah makhluk moral. Moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral di dalam kelompok sosial, yang dikembangakan oleh konsep moral. Konsep moral ialah peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya. Konsep moral inilah yang menentukan pola perilaku yang diharapakan dari seluruh anggota kelompok.
Ciri manusia bermoral atau manusia tidak bermoral adalah jika seseorang melakukan tindakan sesuai dengan nilai rasa dan budaya yang berlaku ditengah masyarakat tersebut dan dapat diterima dalam lingkungan kehidupan sesuai aturan yang berlaku maka orang tersebut dinilai memiliki moral. Kata moral atau akhlak seringkali digunakan untuk menunjukkan pada suatu perilaku baik atau buruk, sopan santun dan kesesuaiannya dengan nilai-nilai kehidupan pada seseorang.
Berikut beberapa contoh perilaku bermoral:
1. Tidak bermain saat pelajaran berlangsung.
2. Memperhatikan guru saat menjelaskan.
3. Datang tepat waktu ke sekolah.
4. Berusaha melaksanakan serta senang bekerjasama dan saling menolong dengan sesama anggota masyarakat.

Timbulnya kesadaran serta pendirian Akhlak, etika dan moral merupakan pola tindakan yang didasarkan atas nilai mutlak kebaikan. Hidup yang selalu berpegang teguh pada akhlak, etika dan moral adalah tindakan yang tepat dalam mewujudkan terhadap kesadaran akhlak, sebaliknya hidup yang tidak sesuai dengan akhlak, etika dan moral yang baik merupakan tindakan yang menentang kesadaran tersebut. Sebagai generasi penerus kita harus selalu berakhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari demi terciptanya kehidupan yang rukun dan damai.

Manusia Makhluk Budaya/Tugas 14

Manusia Makhluk Budaya

Dari segi kebahasaan Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat sentosa dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk Aslama yang berarti berserah diri dalam kedamaian.
Islam dalam segi istilah adalah mengacu kepada agama yang bersumber pada wahyu yang datang dari Allah SWT bukan berasal dari manusia dan bukan pula berasal dari nabi Muhammad SAW.
Kebudayaan adalah suatu keseluruhan yang kompleks yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hokum, moral adat istiadat, dan segala kecakapan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dan ada juga kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batil (akal budi) manusia kepercayaan, kesenian, adat istiadat, dan berarti pula kegiatan (usaha) batin (akal dan sebagainya) untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasi kebudayaan.
Kebudayaan adalah hasil akal manusia untuk mencapai kesempurnaan. Makhluk budaya artinya makhluk yang berkemampuan melakukan hal-hal yang positif, menciptakan kebaikan, kebenaran, keadilan dan bertanggung jawab. Sebagai makhluk berbudaya, manusia mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya.
Dari pengertian penjelasan di atas kata Islam dekat dengan arti agama begitu juga hubungan agama dan kebudayaan dalah dua bidang yang dapat di bedakan tetapi tidak dapat di pisahkan. Agama bernilai mutlak, tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat. Sedangkan budaya, sekalipun berdasarkan agama dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Sebagian besar budaya di dasarkan pada agama, tidak pernah sebaliknya. Oleh karena itu agama adalah primer, dan budaya adalah sekunder.
     Budaya bisa merupakan ekspresi hidup keagamaan, dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa pada tingakat praktis, Agam Islam merupakan produk budaya karena ia tumbuh dan berkembang melalui pemikiran ulama’ dengan cara ijtihad, Disamping itu, Ia tumbuh dan berkembang
Manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dari makhluk lain, yaitu manusia memiliki akal yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan ide dan gagasan yang selalu berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Tujuan dari pemahaman bahwa manusia sebagai makhluk budaya adalah agar dapat dijadikan dasar pengetahuan dalam mempertimbangkan dan menyikapi berbagai problematik budaya yang berkembang dimasyarakat sehingga manusia tidak semata-mata merupakan makhluk biologis saja, namun juga sebagai makhluk sosial, ekonomi, politik dan makhluk budaya.
Bukti bahwa manusia makhluk berbudaya adalah kita dapat mengembangkan potensi perilaku yang baik untuk bergaul dengan masyarakat dan lingkungan sosial sebagai insan yang berbudaya dengan cara mengenal, memahami dan menghargai budayanya sendiri. Contoh-contoh yang menentukan manusia sebagai makhluk berbudaya, misalnya kebiasaan masyarakat untuk mengadakan sholawatan dalam rangka menyambut maulid nabi besar Muhammad SAW, budaya bau nyale di wilayah Nusa Tenggara Barat dan berbagai macam budaya lain di Nusantara ini yang sampai sekarang masih tetap dilaksanakan karena kepercayaan mereka kepada pendahulu mereka sekaligus sebagai bukti bahwa manusia adalah makhluk berbudaya.


Manusia Sebagai Makhluk Peneliti/ Tugas 13

Manusia Sebagai Makhluk Peneliti
Manusia sebagai makhluk peneliti merupakan suatu hal yang manusiawi, karena pada dasarnya manusia memiliki keingintahuan yang sangat kuat sehingga menjadikannya sebagai makhluk yang selalu ingin mencari tahu. Dalam surah Al-Alaq ayat 5 dan 6 ditegaskan kepada manusia untuk membaca, memeriksa, meneliti, menjelaskan, serta menguraikan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari. Dan semua kegiatan yang kita lakukan atau kerjakan haruslah diawali dengan membaca Basmallah. Karena dengan menyebut nama Allah, semua hal positif yang kita kerjakan akan bernilai dihadapan Allah. Dan apabila semua tidak diawali dengan menyebut nama Allah, maka sia-sia lah pekerjaan itu. Karena hanya akan bernilai sama dengan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang tidak beriman. Kemudian dalam ayat itu pula Allah menegaskan bahwa Allah akan memberikan ilmu kepada manusia jika manusia itu membaca karena memang itulah janji Allah.  Dalam hal ini membaca juga memiliki maksud yakni diantaranya ilmu yang Allah janjikan. Karena membaca adalah kunci utama dalam mendapatkan ilmu. Seperti kata mutiara yang sering kita dengar bahwa buku adalah jendela dunia. Yang sebenarnya dimaksudkan agar kita rajin-rajinlah membaca agar ilmu kita semakin luas.
Tetapi Allah juga menegaskan bahwa ilmu yang diturunkan kepada manusia adalah sebagian kecil dari ilmu yang dimiliki Allah. Ilmu Allah diibaratkan bagaikan ilmu yang jika ditulis dengan tujuh samudra di bumi ini sebagai tinta, dan ranting-ranting di seluruh dunia sebagai penanya, maka itu tidaklah cukup untuk menulis ilmu yang Allah miliki. Sehingga, salah apabila meyakini AlQuran sebagai isi dari seluruh ilmu Allah. Tetapi AlQuran merupakan isi dari sebagian kecil ilmu yang Allah turunkan atau Allah karuniakan kepada manusia.
Dalam tragedi perang  Salib, Bangsa Barat mengambil alih perpustakaan terbesar yang dimiliki kaum muslimin. Buku-buku dalam perpustakaan tersebut sebagian mereka bakar, dan sebagian yang menurut mereka itu penting mereka klaim sebagai milik mereka. Mereka juga mengganti beberapa nama penemu-penemu Islam yang mereka ubah menyerupai nama barat. Nama tersebut seperti AVICENA yang sebenarnya adalah IBNU SINA, dan juga AVEROUS yang sebenarnya adalah IBNU RUSYD. Karena kejadian tersebut, para muslimin sempat berfikir apakah Islamisasi Sains itu diperlukan? Jawabannya adalah tidak. Mengapa? Karena Allah menurunkan ilmu-Nya untuk semua orang, tidak hanya kepada kaum Muslimin, tetapi juga kepada kaum lain. Allah memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang untuk memiliki ilmu. Allah mengizinkan itu semua, namun berbedalah antara mengizinkan dengan meridhoi. Dan ilmu itu didapat tidak hanya sekedar membaca tulisan saja, tetapi juga membaca situasi, alam, dan lain sebagainya.
Dalam mencari ilmu inilah manusia zaman sekarang harus membuktikan semuanya secara empirik sehingga memerlukan sebuah penelitian. Seperti misalnya manfaat sholat yang sudah pernah diteliti dan dibuktikan dengan manfaat yang didapat seperti kebugaran dan kesehatan baik jasmani maupun rohani. Dan juga beberapa penelitian yang sebenarnya dilakukan untuk membuktikan apa yang terdapat atau disebutkan dalam AlQuran sampai semuanya terbukti baru manusia akan percaya. Maka dari itulah mengapa manusia disebut sebagai makhluk peneliti.

Manusia Makhluk Belajar/Tugas 12

Manusia Makhluk Belajar
Dalam kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang "Manusia Makhluk Belajar." Menurut kalian, apasih maksud dari penjelasan tersebut? Nah saya akan menjelaskan nya. Manusia adalah makhluk yang dianugerahi akal pikiran. Manusia, karena memiliki akal pikiran, maka dalam pendidikan manusia dijuluki “Animal Educandum”, artinya manusia adalah makhluk yang dapat dididik. 
Manusia terlahir sebagai makhluk yang suci sebagaimana sabda rasulullah SAW yang artinya“setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai yahudi atau nasrani atau majusi.”  Sebagai makhluk yang suci, kita harus senantiasa belajar menuntut ilmu agar mendapatkan banyak pengetahuan yang banyak dan bermanfaat.
Ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan ini, setiap waktu manusia membutuhkan ilmu untuk menjalani hidupnya, sebagaimana perkataan Imam Ahmad Bin Hambal “Manusia sangat berhajat pada ilmu lebih daripada hajat mereka pada makanan dan minuman, karena manusia berhajat pada makanan dan minuman sehari sekali atau dua kali akan tetapi manusia berhajat pada ilmu sebanyak bilangan nafasnya”. 
Akan tetapi ilmu yang bermanfaat dan paling penting adalah mempelajari al-Qur’an dan sunnah serta memahami makna kandungan keduanya dengan pemahaman para sahabat, tabi’in-tabi'in. Karena dengan ilmu kita bisa beribadah yang benar sehingga akan mengantarkan kita kepada surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ
Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim).
Untuk itu betapa pentingnya pendidikan terhadap setiap insan agar nantinya  melahirkan generasi yang baik. Allah telah mewajibkan kepada setiap muslim dan muslimat untuk selalu menuntut ilmu sebagaimana sabda rasulullah SAW yang berbunyi: “menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimat.” Lalu, kenapa kita mesti ragu untuk menimba ilmu.

Banyak sekali keutamaan yang akan di dapat bagi para penuntut ilmu diantaranya adalah:
a.       Allah akan mengangkat derajat orang yang menuntut ilmu
b.      Jalan menuju surga Allah
c.       Malaikat akan membentangkan sayap untuk penuntut ilmu
d.      Ilmu adalah amalan yang tidak terputus amalannya
Sungguh allah begitu sangat memuliakan sekali para penuntut ilmu. Bersemangatlah untuk selalu menimba ilmu agar dapat meraih keutamaan tersebut.

Menuntut ilmu tidak hanya dapat di lakukan ketika kita duduk di bangku perkuliahan saja. Akan tetapi ilmu dapat kita dapatkan dimana saja,kapan saja dan dengan siapa saja. Contohnya saja ilmu tentang menanam jagung kita dapat mendapatkan ilmu tersebut langsung dari petani jagung tanpa harus menuntut ilmu di bangku kuliah. Ini pertanda bahwa ilmu allah itu begitu luas sekali. sebagai seorang hamba yang beriman maka alangkah baiknya kita untuk menuntut ilmu tersebut tanpa memandang siapa yang berbicara tapi lihatlah apa yang di bicarakan. Jadikanlah ilmu tersebut sebagai sarana untuk dapat mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa.

Banyak sekali kata mutiara yang dapat menyemangati kita para penuntut ilmu agar menuntu ilmunya lebih bergairah kembali. Di antaranya adalah:
1.      Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat
2.      Ilmu lebih utama daripada harta
3.      Belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan bahwa ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan, belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh sesorang yang bukan penakut. ( Anwar Fuadi)

            Terakhir kali tak lupa saya mengingatkan khususnya pada diri sendiri dan umumnya pada pembaca sekalian untuk selalu menggenjot motivasi belajar agar derajat kita dapat naik satu tingkat dengan yang tidak menuntut ilmu. Ingatlah, bahwa ilmu yang kita pelajari selain bermanfaat untuk diri sendiri ilmu tersebut akan bermanfaat pula untuk orang lain. Ilmu yang bermanfaat untuk orang lain nantinya akan terhitung sebagai amal jariyah yang akan membantu kita di saat tak ada lagi yang mampu membantu selain amal kebaikan.
           
Sumber: http://syamilbali.blogspot.com/2015/10/manusia-adalah-makhluk-belajar_15.html

Takaran dan Timbangan/Tugas 11

Pengertian Takaran dan Timbangan
Takaran adalah alat yang digunakan untuk menakar. Dalam aktifitas bisnis,  takaran (al-kail) biasanya dipakai untuk mengukur satuan dasar ukuran isi barang cair,  makanan dan berbagai keperluan lainnya.
Kata lain yang sering juga dipakai untuk fungsi yang sama adalah literan Timbangan (al-wazn) dipakai untuk mengukur satuan berat. Timbangan adalah suatu macam alat ukur yang diberikan perhatian untuk benar-benar dipergunakan secara tepat dan benar dalam perspektif ekonomi syariah.               
Mengurangi timbangan dan takaran adalah mengurangi ukuran atau jumlah barang yang di timbang atau di takar. Misalnya ukuran gula 1 kg tetapi ukuran itu dikurangi. Tidakan seperti ini adalah tindakan curang yang seharusnya dijauhi. Perbuatan ini adalah kebohongan kepada pembeli. Kejujuran sangat ditekankan karena kejujuran kunci dari kebersihan hidup kebohongan-kebohongan yang hanya akan menjerumuskan ke dalam neraka.
Perbuatan mengurangi takaran dan timbangan akan menghilangkan kepercayaan dari orang lain. Ini sangat merugikan.  karena ketika kepercayaan dari orang lain sudah tidak ada, maka akan mendapatkan kesulitan, hidup haruslah bergandengan, ketika orang tidak percaya lagi maka kita akan tersisih dan selalu di anggap curang walaupun suatu ketika kita tidak curang. Untuk itulah Allah sangat menekankan perbuatan jujur karena jujur akan selalu membawa pada kebaikan-kebaikan.
Ayat-Ayat yang Menjelaskan Takaran dan Timbangan
1.             QS Al-Muthaffifin : 1-3
وَيْلُ لِّلْمُطًفِّفِيْنَ (١) اًلِّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُواْ عَلَى الناسِ يَسْتَوفُوْنَ (٢) وَاِذَا كَالُوْهُمْ أَوْوَزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَ (٣)
Artinya :
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”.
a.        Asbabun Nuzul  QS Al-Muthaffifin
Diturunkan di Makkah sesudah surat Al Ankabut terdiri atas 36 ayat. Sebagian ulama’ Alquran berkata: surat inilah surat yang terakhir turun di Makkah, surat ini diturunkan mengenai keadaan penduduk madinah.
Imam An Nasai dan Ibnu Majah dengan sanad yang shohih meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata “ketika nabi saw baru saja tiba di Madinah, orang-orang di sana masih sangat terbiasa mengurangi timbangan (dalam jual beli) allah lantas menurunkan ayat “celakalah bagi orang-orang yang curang(dalam menakar dan menimbang)” setelah turun ayat ini, mereka selalu menepati takaran dan timbangan.
b.        Tafsiran QS Al-Muthaffifin
Ayat 1: azab dan kehinaan yang sangat di hari kiamat ditimpakan atas orang yang suka curang dalam takaran dan timbangan, yang mengambil takaran yang mengambil sempurna untuk diri mereka sendiri dan takaran yang kurang untuk orang lain.
        Allah mengkhususkan ancaman ini kepada golongan orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan adalah karena pekerjaan ini tersebar di makkah dan di madinah.
        Ada seorang laki laki bernama djuhainah, dia mempunyai dua takaran, satu besar dan yang satu lagi kecil. Apabila dia membeli dia memakai takaran yang besar dan apabila dia menjual dia memakai takaran yang kecil.
Ayat2:  orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan ialah orang-orang yang apabila mereka yang menerima barang dari orang lain. Mereka tidak mau menerima kalau tidak cukup sempurna, akan tetapi apabila orang lain yang menerimanya maka merekapun berusaha agar timbanga dan takaran itu tidak sempurna.
        Berlaku curang ini tidak saja perbuatan dalam takaran dan timbangan, tetapi juga dalam hal upah mengupah, sewa menyewa dan sebagainya. Maka janganlah seseorang apabila memakai tenaga buruh. Memperhatikan benar-benar segala pekerjaan buruh itu, tetapi apabila dia sendiri yang menjadi buruh, maka dia tidak memperhatikan kepentingan majikannya yang tetap memperhatikan pekerjaannya.
Ayat 3:Perbuatan yang curang itu, baik dalam hal takaran, timbangan, penyerobotan hak manusia dan sebagainya hanyalah dikerjakan oleh orang-orang yang menyangka bahwa dia tidak bangkit pada hari kiamat dan tidak dihisab amalannya. Sekiranya dia mempunyai kepercayaan bahwa dia akan menghadapi hari akhirat dimana dia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, tentulah ia tidak berlaku curang dalam hal takaran timbangan.
2.             QS Asy Syu'ara : 181-183
أَوْفُوْا الْكَيْلَ وَلَا تَكُوْ نُوْا مِنَ الْمُخْسِرِيْنَ (١٨١)  وَزِنُوْا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيْمِ (١٨٢) وَلَاتَبْخَسُوْا النَّاسَ أَشْياَءهم وَلَاتَعْثَوْا فِيْ اْلاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ (١٨٣)
Artinya :
   “Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus, Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan”
a.        Tafsiran QS. As-Syuara
Ayat 181: Jika kalian berjualan, maka takarlah pembelian mereka dengan sempurna, dan janganlah kalian merugikan hak mereka sehingga kalian memberikannya dalam keadaan kurang. Kemudian jika kalian membeli, maka ambillah seperti jika kalian menjual.
Ayat 182:   Timbanglah dengan timbangan yang lurus dan adil. Serupa ini disajikan di dalam surat al-muthaffifin, disertai dengan peringatan
Ayat 183: Janganlah kalian banyak mengadakan kerusakan di muka bumi, seperti membunuh, memerangi, menyamun, merampas dan sebagainya. Setelah melarang mereka melakukan semua itu, selanjutnya syu’aib menakut-nakuti mereka dengan kemakmuran allah yang maha perkasa, yang telah menciptakan  mereka dan orang-orang sebelum mereka, yang lebih kuat dan lebih sombong dibanding mereka.       
3.             QS  Al Israa' : 35
وَأَوْفُوْاالكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالقِسْطَاسِ المُسْتَقِيْمِقلى ذلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيْلًا (الإسراء:35(
Artinya :
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”
a.    Asbabun Nuzul QS. Al-Israa ayat 35
          Surat al isra (berjalan di waktu malam) dinamakan demikian karena tema pokok yang dibahas adalah kisah isra’ mi’raj.
          Surat Al Isra atau dikenal juga dengan nama Surah Bani Israil termasuk golongan surat Makiyah. Dan dalam Surah Al Isra pada ayat 35 penulis tidak menemukan asbabun nuzulnya.
b.   Tafsiran QS. Al-Israa
وَأَوْفُوْاالكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ
          Dan sempurnakan takaran kepada orang lain, jangan kamu merugikan mereka apabila kamu menakar untuk hak-hak mereka dari pihakmu, sedang kalau kamu menakar untuk dirimu sendiri, maka tak apalah kamu mengurangi hakmu dan kamu tidak penuhi takaran.
وَزِنُوا بِالقِسْطَاسِ المُسْتَقِيْمِ
          Dan timbanglah oleh kalian dengan timbangan yang adil, tanpa menganiaya sedikitpun atau berat sebelah. Karena semua manusia membutuhkan pertukaran barang dan berjual beli. Dan karenanya, allah yang membuat syariat sangat melarang kecurangan dan pengurangan dalam uasaha menetapkan harta pada pemiliknya.
ذلِكَ خَيْرٌ
          Penunaianmu akan janji dan pemenuhanmu akan takaran kepada orang yang menakar kamu untuknya, dan penimbanganmu yang adil kepada orang yang kamu menimbang untuknya, adalah lebih baik bagimu di dunia daripada kamu berkhianat dan mengurangi takaran atau timbangan. Karena, hal itu termasuk hal yang menyenangkan orang lain dalam muamalatmu dan membuat mereka suka memuji kamu.
وَأَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
          Dan lebih baik akibatnya, karena hal itu menyebabkan kamu mendapatkan pahala di akhirat dan selamat dari hukuman yang pedih. Memang banyak orang kafir yang terkenal teguh memegang amanat dan jauh dari penghianatan, maka datang kepada mereka dunia, lalu mereka mendapatkan kekayaan dan harta yang banyak. Hal itu menyebabkan mereka berbahagia di dunia.
v  Tafsiran lain:
        Menurut saya, bahwasanya dalam ketiga surat ini ada ancaman bagi orang yang suka menipu dan mengambil hak orang lain dalam timbangan dan takaran. Setiap yang kita tanam -baik kebaikan maupun kejelekan-, pasti kita akan menuai hasilnya. Oleh karenanya, bersemangatlah dalam menanam kebaikan dan janganlah pernah mau menanam kejelekan.
        Menurut Syaikh as-Sa’di rahimahullah, bahwa yang mendorong mereka berani berbuat kecurangan dalam menakar dan menimbang adalah karena mereka tidak mengimani Hari Akhir. Jika mereka mengimaninya, dan yakin bahwa mereka akan berdiri di hadapan Allâh k untuk memperhitungkan perbuatan mereka, yang besar maupun yang kecil, niscaya akan menahan diri dari praktek curang itu dan kemudian bertaubat darinya.[8]
C.      Hadist yang Menjelaskan tentang Takaran dan Timbangan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤُنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ
“Dan tidaklah mereka berbuat curang ketika menakar dan menimbang melainkan mereka akan ditimpa kekeringan, mahalnya biaya hidup dan kelaliman para penguasa.”
  Maksudnya adalah mereka ditimpa kekeringan dan paceklik, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala menahan hujan dari mereka (Dia tidak menurunkan hujan untuk mereka), dan jika bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan maka Allah akan mengirimkan musibah kepada mereka berupa serangga, ulat dan hama penyakit lain yang merusak tanaman. Dan jika tanaman itu berbuah maka buahnya tidak ada rasa manis dan segar. Betapa banyak petani yang melakukan kecurangan mendapati buah-buahannya tidak memiliki rasa.
Dan disebutkan di dalamnya hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:
لما قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة كانوا من أخبث الناس كيلاً
”Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang ke Madinah, mereka (penduduk Madinah) adalah termasuk orang yang paling curang dalam takaran.”

Maksudnya, penduduk Madinah dan kaum Anshar radhiyallahu 'anhum sebelum datangnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ke Madinah, dahulu mereka sudah terbiasa dengan bertansaksi dalam jual beli. Dan mereka adalah manusia yang paling curang dalam takaran, atau termasuk di antara manusia yang paling curang dalam takaran. Yakni, mereka curang dalam masalah takaran dan timbangan, dan mereka menguranginya dalam masalah itu. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba di Madinah, Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan beberapa ayat al-Qur’an.
Menurut saya kedua hadist tersebut penjelasannya sama yakni tentang orang yang curang dalam hal takaran dan timbangan dan tentang ancamannya. Perbedaannya, pada hadist yang pertama menjelaskan adanya ancaman bagi orang yang curang dalam takaran dan timbangan di dunia, sedangkan pada hadist yang kedua penjelasannya sama dengan Surah Al Muthaffifin yakni adanya ancaman bagi orang yang berbuat curang tersebut di akhirat nantinya.

عَنْ اَبِيْ سَعِيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم, اَلتَّاجِرُ الصَّدُوْقُ اْلاَمِيْنُ مَعَ النَّبِيّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ (رواه الترميذي)
“Dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu, katanya: Rasulullah SAW. Bersabda: ‘Pedagang yang jujur yang dapat dipercaya itu berdama para Nabi dan oang-orang yang benar serta para syuhada’.” (HR Tirmidzi)[11]
          Maksudnya: Dari hadist tersebut dapat disimpulkan bahwasannya seorang pedagang yang melakukan transaksi jual beli tidak boleh berlaku curang dalam dagangannya, tetapi harus jujur dan benar dalam transaksi jual beli.
Bahaya Mengurangi Takaran dan Timbangan
       Kecurangan tersebut jelas merupakan satu bentuk praktek sariqah (pencurian) terhadap milik orang lain dan tidak mau bersikap adil dengan sesama[12] Dengan demikian, bila mengambil milik orang lain melalui takaran dan timbangan yang curang walaupun sedikit saja berakibat ancaman doa kecelakaan. Dan tentu ancaman akan lebih besar bagi siapa saja yang merampas harta dan kekayaan orang lain dalam jumlah yang lebih banyak.
       Syaikh ‘Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Jika demikian ancaman bagi orang-orang yang mengurangi takaran dan timbangan orang lain, maka orang yang mengambil kekayaan orang lain dengan paksa dan mencurinya, ia lebih pantas terkena ancaman ini daripada muthaffifîn.
       Tentang bahaya kecurangan ini terhadap masyarakat, Syaikh ‘Athiyyah Sâlim rahimahullah mengatakan, “Diawalinya pembukaan surat ini dengan doa kecelakaan bagi para pelaku tindakan curang dalam takaran dan timbangan itu menandakan betapa bahayanya perilaku buruk ini. Dan memang betul, hal itu merupakan perbuatan berbahaya. Karena timbangan dan takaran menjadi tumpuan roda perekonomian dunia dan asas dalam transaksi. Jika ada kecurangan di dalamnya, maka akan menimbulkan khalal (kekisruhan) dalam perekonomian, dan pada gilirannya akan mengakibatkan ikhtilâl (kegoncangan) hubungan transaksi. Ini salah satu bentuk kerusakan yang besar”.
Perintah Menyempurnakan Takaran dan Timbangan
       Perintah allah untuk menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil berlaku bagi diri sendiri dan bagi orang lain.
       Konsep persaudaraan dan perlakuan yang sama bagi setiap individu dalam masyarakat dan di hadapan hukum harus diimbangi dengan keadilan. Tanpa pengimbangan tersebut, keadilan sosial kehilangan makna. Dengan keadilan ekonomi, setiap individu akan mendapatkan haknya sesuai dengan kontribusi masing msing kepada masyarakat. Setiap individupun harus terbebaskan dari eksploitasi individu lainnya. Islam dengan tegas melarang seorang muslim merugikan orang lain.
       Islam dengan kesempurnaan, kemuliaan dan keluhuran ajarannya, memerintahkan umatnya untuk menjalin muamalah dengan sesama atas dasar keadilan dan keridhaan.
       Syaikh asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, “bahwasannya, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan penyempurnaan (isi) takaran dan timbangan dengan adil. Dan menyatakan bahwa siapa saja yang tanpa kesengajaan terjadi kekurangan pada takaran dan timbangannya, tidak mengapa karena tidak disengaja”. Dan bahwasannya juga, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa memenuhi takaran dan timbangan lebih utama dan lebih baik manfaat.