Kamis, 26 September 2019

IBADAH MAHDHAH /Tugas 04


IBADAH MAHDHAH
(Khilmi Mustofa)
Menurut bahasa ibadah adalah merendahkan diri, ketundukan dan kepatuhan akan aturan-aturan agama. Sedangkan menurut istilah syar'i “Ibadah” adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya', baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang tampak (lahir). Maka salat, zakat, puasa, haji, berbicara jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang dari yang munkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal di perjalanan), berbuat baik kepada orang atau hewan yang dijadikan sebagai pekerja, memanjatkan do’a, berdzikir, membaca Al Qur’an dan lain sebagainya adalah termasuk bagian dari ibadah. Begitu pula rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, inabah (kembali taat) kepada-Nya, memurnikan agama (amal ketaatan) hanya untuk-Nya, bersabar terhadap keputusan (takdir)-Nya, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, merasa ridha terhadap qadha/takdir-Nya, tawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat (kasih sayang)-Nya, merasa takut dari siksa-Nya dan lain sebagainya.
Ibadah mahdhah ialah ibadah dalam arti sempit yaitu aktivitas atau perbuatan yang sudah ditentukan syarat dan rukunnya. Maksudnya syarat itu hal-hal yang perlu dipenuhi sebelum suatu kegiatan ibadah itu dilakukan. Sedangkan rukun itu hal-hal, cara, tahapan atau urutan yang harus dilakukan dalam melaksanakan ibadah itu. Ibadsh Mahdhah diantaranya adalah syahadat, shalah, puasa, zakat, hajji.
1.    SYAHASAT
Pengakuan ketauhidan.
Seorang muslim hanya mempercayai Allah sebagai satu-satunya Allah dan tiada tuhan yang lain selain Allah. Allah adalah Tuhan dalam arti sesuatu yang menjadi motivasi atau menjadi tujuan seseorang. Dengan mengikrarkan kalimat pertama, seorang muslim memantapkan diri untuk menjadikan hanya Allah sebagai tujuan, motivasi, dan jalan hidup.
Pengakuan kerasulan.
Dengan mengikrarkan kalimat ini seorang muslim memantapkan diri untuk meyakini ajaran Allah yang disampaikan melalui seorang 'Rasul Allah,' Muhammad.
Makna Laa Ilaaha Illallah
Kalimat “Laa Ilaaha Illallah” sebenarnya mengandung dua makna, yaitu makna penolakan dan bantahan terhadap segala bentuk sesembahan (baik dewa maupun ilah) selain Allah, dan makna penegasan bahwa gelar Tuhan, Ilah, Dewa atau sesembahan hanyalah milik Allah. Maka mengilmui makna syahadat tauhid adalah wajib dan mesti didahulukan dari pada rukun-rukun Islam yang lain. Di samping itu Rasulullah pun menyatakan: "Barang siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas maka akan masuk ke dalam surga."

Yang dimaksud dengan ikhlas di sini adalah memahami, mengamalkan dan mendakwahkan kalimat tersebut sebelum yang lainnya, karena di dalamnya terkandung tauhid yang karenanya Allah menciptakan alam.
2.    SHALAT
Salat (pengucapan bahasa Indonesia: [salat]; bahasa Arab: صلاة; transliterasi: ṣalāt; bentuk tidak baku: salat, solat, sholat, shalat) merujuk kepada ibadah pemeluk agama Islam. Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Nabi Muhammad sebagai figur pengejawantah perintah Allah.[1] Umat muslim diperintahkan untuk mendirikan salat karena menurut Surah Al-'Ankabut dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

"...dirikanlah salat, sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)."
 Al-'Ankabut 29:45
Secara bahasa salat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, Ibadah. Sedangkan, menurut istilah, salat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

a.    Hukum salat

Hukum salat dapat dikategorikan sebagai berikut:

a.    Fardu, Salat fardhu ialah salat yang diwajibkan untuk mengerjakannya. Salat fardhu terbagi lagi menjadi dua, yaitu:
-       Fardu ain adalah kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf langsung berkaitan dengan dirinya dan tidak boleh ditinggalkan ataupun dilaksanakan oleh orang lain, seperti salat lima waktu, dan salat Jumat (fardhu 'ain untuk pria).
-       Fardu kifayah adalah kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf tidak langsung berkaitan dengan dirinya. Kewajiban itu menjadi sunnah setelah ada sebagian orang yang mengerjakannya. Akan tetapi bila tidak ada orang yang mengerjakannya maka kita wajib mengerjakannya dan menjadi berdosa bila tidak dikerjakan, seperti salat jenazah.
b.    Salat sunah (salat nafilah) adalah salat-salat yang dianjurkan atau disunnahkan akan tetapi tidak diwajibkan. Salat nafilah terbagi lagi menjadi dua, yaitu:
-       Nafil muakkad adalah salat sunah yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti salat dua hari raya, salat sunah witir dan salat sunah thawaf.
-       Nafil ghairu muakkad adalah salat sunah yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti salat sunah Rawatib dan salat sunah yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan keadaan, seperti salat kusuf/khusuf hanya dikerjakan ketika terjadi gerhana).

Syarat-syarat salat
Syarat-syarat salat adalah hal-hal yang harus dipenuhi sebelum salat ditunaikan.

-       Beragama Islam
-       Sudah balig
-       Berakal sehat
-       Suci dari hadas dan najis
-       Menghadap kiblat
-       Mengetahui masuknya waktu salat
-       Mengerti syarat, rukun, dan sunah salat


b.    Rukun Salat

Rukun salat adalah setiap perkataan atau perbuatan yang akan membentuk hakikat salat. Jika salah satu rukun ini tidak ada, maka salat pun tidak teranggap secara syar’i dan juga tidak bisa diganti dengan sujud sahwi.

-       Berdiri bagi yang mampu.
-       Niat dalam hati
-       Takbiratul ihram.
-       Membaca surat Al Fatihah pada tiap rakaat.
-       Rukuk dan tuma’ninah.
-       Iktidal setelah rukuk dan tumakninah.
-       Sujud dua kali dengan tumakninah.
-       Duduk antara dua sujud dengan tumakninah.
-       Duduk tasyahud akhir
-       membaca tasyahud akhir.
-       Membaca salawat nabi pada tasyahud akhir.
-       Membaca salam yang pertama.
-       Tertib melakukan rukun secara berurutan.

c.    Salat Berjamaah

Sebuah infografik mengenai posisi salat berjamaah sesuai sunnah dari Nabi Muhammad S.A.W..
Salat tertentu dianjurkan untuk dilakukan secara bersama-sama (berjamaah). Dalam pelaksanaannya setiap Muslim diharuskan mengikuti apa yang telah Nabi Muhammad ajarkan, yaitu dengan meluruskan dan merapatkan barisan, antara bahu, lutut dan tumit saling bertemu.

Pada salat berjamaah seseorang yang dianggap paling kompeten akan ditunjuk sebagai imam salat, dan yang lain akan berlaku sebagai makmum.

Salat yang dapat dilakukan secara berjamaah maupun sendiri antara lain:
Salat fardu
Salat tarawih
Salat yang harus dilakukan berjamaah antara lain:
Salat Jumat
Salat Hari Raya (Ied)
Salat Istisqa'
Artikel utama: Salat Fardu
Yaitu salat yang tidak wajib berjamaah tetapi sebaiknya berjamaah.

d.    Salat dalam kondisi khusus

Salat Qashar, dan Salat Jamak
Dalam situasi dan kondisi tertentu kewajiban melakukan salat diberi keringanan tertentu. Misalkan saat seseorang sakit dan saat berada dalam perjalanan (safar).

Bila seseorang dalam kondisi sakit hingga tidak bisa berdiri maka ia dibolehkan melakukan salat dengan posisi duduk, sedangkan bila ia tidak mampu untuk duduk maka ia diperbolehkan salat dengan berbaring, bila dengan berbaring ia tidak mampu melakukan gerakan tertentu ia dapat melakukannya dengan isyarat.

Sedangkan bila seseorang sedang dalam perjalanan, ia diperkenankan menggabungkan (jamak) atau meringkas (qashar) salatnya. Menjamak salat berarti menggabungkan dua salat pada satu waktu yakni salat zuhur dengan salat asar atau salat magrib dengan salat isya. Mengqasar salat berarti meringkas salat yang tadinya 4 rakaat (zuhur, asar, isya) menjadi 2 rakaat.


Sumber;


Selasa, 24 September 2019

Manusia Makhluk Ibadat/Tugas 03


Manusia Makhluk Ibadat
(khilmi mustofa)

Ibadah pada dasarnya merupakan bentuk pengapdian diri kepada tuhannya untuk kebutuhan dan keutamaan manusia itu sendiri. segala Perbuatan yang dilakukannya adalah semata-mata hanya untuk mengharap ridho Allah. Meskipun tidak semua bisa berjalan sesuai kaidah. Karena manusia memang pada dasarnya diciptakan dengan banyak kekurangan. Manusia juga memiliki akal dan hawa nafsu yang terkadang sangat susah untuk dikendalikan. Berbeda dengan malaikat yang memang diciptakan hanya untuk mentaati segala perintah Allah.
       Sebagaimana firman-Nya:
وماخلقت الجن والانسالالتعبدون
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”[QS Al-baqoroh].
Manusia juga sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia adalah khalifah di bumi. Namun manusia juga yang akan merawat dan menyebabkan kerusakan di bumi. Semua bergantung pada manusia itu sendiri. Makhluk yang menempati bumi tidak hanya manusia, melainkan juga makhluk-makhluk lain seperti hewan, dan sejenis jin dan sebagainya. Iblis  yang senantiasa menyesatkan manusia. Iblis yang sudah berjanji kepada Allah, bahwa akan terus menggoda manusia untuk terus berada di jalan yang salah. Mereka yang membisikkan kata-kata negatif yang menjurus pada perbuatan dosa. Bagaimana cara kita untuk bisa menahan diri melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, bahkan menjurus ke perbuatan dosa dan bagaimana cara kita untuk tetap memperkuat iman serta menjaga segala perbuatan baik agar senantiasa istiqomah di jalan yang benar.
Ibadah berasal dari kata 'abada yang arti bebasnya menyembah atau mengabdi merupakan bentuk penghambaan manusia sebagai makhluk kepada Allah SWT. Ibadah memiliki aspek yang sangat luas. Sehingga segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala, baik berupa perbuatan maupun ucapan, secara lahir maupun batin, semuanya merupakan ibadah. Sedangkan lawan dari ibadah adalah ma'syiat. Kita sering tertipu sehingga selalu dirundung dalam keraguan, kebingungan serta kegalauan di saat menghadapi tuntutan agar memelihara “alat-Rezeki” yang telah diamanahkan oleh Allah kepada kita sebagai hamba-Nya untuk dijadikan sebagai “Ladangnya Akhirat” yang paling subur. 
Selama kita masih ditempatkan oleh Allah dalam maqom manusia masih punya kesempatan untuk menambah amal perbuatan baik dan beribadah. Karena sebenarnya yang lebih penting untuk diperhatikan adalah masalah Ibadah Mu’amalah, karena ternyata malah bentuk ibadah ini justru dijadikan sebagai tolok ukur dari kualitas nilai dari setiap Ibadah Khusus yang telah kita lakukan selama ini.

Manusia diciptakan oleh Allah, dengan dibekali potensi dan infrastruktur yang sangat unik. Keunikan dan kesempurnaan bentuk manusia ini bukan saja dilihat dari bentuknya, akan tetapi juga dari karakter dan sifat yang dimiliki oleh manusia. Sebagai ciptaan, manusia dituntut memiliki kesadaran terhadap posisi dan kedudukan dirinya di hadapan Tuhan. Dalam konteks ini, posisi manusia dihadapan Tuhan adalah bagaikan “abdi” dengan “raja”, yang harus menunjukan sifat pengabdiaan dan kepatuhan.
Sebagai agama yang haq, Islam menegaskan bahwa posisi manusia di dunia ini adalah sebagai ‘abdullah (hamba Allah). Posisi ini menunjukan bahwa salah satu tujuan hidup manusia di dunia adalah untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah, taat dan patuh terhadap seluruh perintah Allah, dengan cara menjalankan seluruh perintah-perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya dalam segala aspek kehidupan.
Tugas dan tanggung jawab manusia sebenarnya telah nyata dan begitu jelas sebagaimana terkandung di dalam Al-Quran yaitu tugas melaksanakan ibadah mengabdikan diri kepada Allah dan tugas sebagai khalifah-Nya dalam makna mentadbir dan mengurus bumi ini mengikut undang-undang Allah dan peraturan- Nya

Tugas sebagai khalifah Allah ialah memakmurkan bumi ini dengan mentadbir serta mengurusnya dengan peraturan dan undang-undang Allah. Tugas beribadah dan mengabdi diri kepada Allah dalam rangka melaksanakan segala aktiviti pengurusan bumi ini yang tidak terkeluar dari garis panduan yang datang dari Allah swt. dan dikerjakan segala kegiatan pengurusan itu dengan perasaan ikhlas kerana mencari kebahagian dunia dan akhirat serta keridhaan Allah.

Beribadah tidaklah sulit sebenarnya. Hanya perlu keikhlasan dan ketulusan dalam diri kita. Sekecil-kecilnya, dengan contoh seperti ini, perbuatan baik tidak akan ada nilainya jika dilakukan tanpa mengucap Bismillah, dan apabila diucapkan maka sudah dianggap ibadah.

Makna beribadah sebagaimana dikemukakan di atas (mentaati segala perintah dan menjauhi larangan Allah) merupakan makna ibdah secara umum. Dalam tataran praktis, ibadah secara umum dapat diimplementasikan dalam setiap aktivitas yang diniatkan untuk menggapai keridlaan-Nya, seperti bekerja secara professional, mendidik anak, berdakwah dan lain sebagainya. Dengan demikian, misi hidup manusia untuk beribadah kepada Allah dapat diwujudkan dalam segala aktivitas yang bertujuan mencari ridla Allah.
Sedangkan secara khusus, ibadah dapat dipahami sebagai ketaatan terhadap hukum syara’ yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. Hukum syara’ ini selalu berkaitan dengan amal manusia yang diorientasikan untuk menjalankan kewajiban ‘ubudiyah manusia, seperti menunaikan ibadah shalat, menjalankan ibadah puasa, memberikan zakat, pergi haji dan lain sebagainya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan hidup manusia yang pertama adalah menyembah kepada Allah. Dalam pengertian yang lebih sederhana, tujuan ini dapat disebut dengan “beriman”. Manusia memiliki keharusan menjadi individu yang beriman kepada Allah (tauhid). Beriman merupakan kebalikan dari syirik, sehingga dalam kehidupannya manusa sama sekali tidak dibenarkan menyekutukan Allah dengan segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini (Syirik).

Disamping itu, dalam beribadah akan ada kaitannya antara iman kita, ilmu, dan amal. Dalam islam, antara iman, ilmu dan amal terdapat hubungan yang terintegrasi kedalam agama islam. Dalam agama islam terkandung tiga ruang lingkup, yaitu akidah, syari’ah dan akhlak. Sedangkan iman, ilmu dan amal barada didalam ruang lingkup tersebut. Iman berorientasi terhadap rukun iman yang enam, sedangkan ilmu dan amal berorientasi pada rukun islam yaitu tentang tata cara ibadah dan pengamalanya.


Sumber;

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK ALLAH /Tugas 02


MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK ALLAH
                        (khilmi mustofa)
Serangkaian percobaan, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan teknologi mutakhir, telah mengungkapkan tanpa ragu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Para ilmuwan telah memastikan bahwa alam semesta berada dalam keadaan yang terus mengembang. Dan mereka telah menyimpulkan bahwa, karena alam semesta mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur dalam waktu, alam semesta ini tentulah memulai pengembangannya dari sebuah titik tunggal. Sungguh, kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan saat ini adalah alam semesta bermula dari ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut “Dentuman Besar” atau Big Bang.
Adapun ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT-lah yang telah menciptakan alam semesta adalah :
[1] Q.S. Al-Sajdah :4
Artinya: “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Kamu semua tidak memiliki seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak memperhatikannya ?”(Q.S. Al-Sajdah [32] :4 )
Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang telah menurunkan Alquran kepada Muhammad saw itu adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa. Yang dimaksud dengan enam masa dalam ayat ini bukanlah hari (masa) yang dikenal seperti sekarang ini, tetapi adalah hari sebelum adanya langit dan bumi. Hari pada waktu sekarang ini adalah setelah adanya langit dan bumi serta telah adanya peredaran bumi mengelilingi matahari dan sebagainya.
 [2] Q.S. Al-Kahfi :51
Artinya: “aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.”(Q.S. Al-Kahfi [18] :51 )
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan kekuasaan-Nya, dan bahwa setan itu tidak berhak untuk menjadi pembimbing atau pelindung bagi manusia.
Allah SWT menegaskan bahwa iblis dan setan-setan itu tidak dihadirkan untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi ini, di kala Allah menciptakannya, bahkan tidak pula penciptaan dari mereka sendiri, dan tidak pula sebagian mereka menyaksikan penciptaan sebagian yang lain. Bilamana mereka tidak hadir dalam penciptaan itu, bagaimana mungkin mereka memberikan pertolongan dalam penciptaan tersebut.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Di dalam ayat-ayat Al-Quran tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari bahan dasar tanah yang kemudian dengan kekuasaan dan hukum-hukumnya dibentuk rupa dan beragam fungsi dari fisik yang ada dalam tubuh manusia. Hal ini tentunya dilakukan Allah pada manusia pertama yaitu Nabi Adam . Hingga setelah itu ada proses penciptaan manusia berupa hukum biologis.Manusia diberi hak hidup oleh Allah swt. Bukan untuk hidup semata, melainkan ia diciptakan oleh Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Dalam rangka pengabdian inilah, manusia dibebani kewajiban/taklif yang sangat erat kaitannya dengan usaha dan kesungguhan manusia itu sendiri.
Selanjutnya dalam kehidupan manusia selalu dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan satu dan yang lainnya. Oleh karena itu manusia dalam berikhtiar melaksanakan taklif, berkewajiban mengendalikan dan mengarahkan faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupannya, guna mencapai kebahagian yang hakiki yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.
Manusia atau yang biasa disebut oleh Allah dalam Al Qur’an dengan sebutan bani adam mempunyai kedudukan yang sangat mulia, bahkan mahluk Allah yang paling mulia diantara mahluk-makhluk Allah yang lain. Nilai lebih yang diberikan Allah ini merupakan pembeda manusia dengan ciptaan Allah yang lain. Namun “kemulian/ karamah” manusia ini ada nilai konsekuensi yang berat Karena pada diri manusia terdapat nafsu yang tidak selamanya dapat diajak kompromi untuk menjalankan ketaatan kepada Allah swt.
Nafsu inilah yang sering membuat manusia tidak konsisten pada nilai kemanusiaanya dan bahkan sering sekali menelantarkannya dalam kehinaan. Diantara pemberiaan Allah kepada manusia adalah diberikanya kemampuan fisik dan berfikir. dua kemampuan ini yang pada dasarnya akan menumbuhkan sumber daya manusia, sekaligus akan memacu manusia untuk mencapai kualitas terbaiknya, bila di barengi dengan kemauan untuk berusaha.
Disisi lain meskipun memiliki nilai karamah/ kemuliaan, manusian dalam Al-Qur’an tetap sebagai abd/ hamba. seorang hamba berarti dia punya tanggung jawab yang melekat pada dirinya. Manusia dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah dia mendapatkan tanggung jawab (taklif) yang harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan kemampuannya.
Sejauahmana manusia mampu memenuhi taklif, sejauh itu pula ia mempertahankan nilai kemuliaanya/ karamahnya. Sejauhmana manusia mengabdikan dirinya kepada Allah maka selama itu juga ia melaksanakan tanggung jawabnya sebagai abd. Ini mengandung arti bahwa manusia didalam hidup dan kehidupannya selalu harus beribadah kepada Allah swt. Karena Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya. QS. Azzariyat 56: “Tidak Aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu”.
Meskipun manusia berstatus sebagai hamba, tapi manusia diberi kedudukan sebagai khalifah Allah dengan berbagai tingkat dan derajatnya, dalam hubungannya secara bertikal dengan Allah ataupun hubungan horizontal sejajar antar sesama manusia. Khalifah sebagai pengganti, ia diberi wewenang terbatas sesuai dengan potensi diri dan posisinya. Namun manusia harus faham bahwa wewenang itu pada dasarnya adalah tugas yang harus di emban dengan penuh tanggung jawab.
Tugas khalifah dalam Al Qur’an biasa disebut imaratul ardh (memakmurkan bumi) dan ibadatullah (beribadah kepada Allah). Allah menciptakan manusia dari bumi ini dan menugaskan manusia untuk melakukan imarah dimuka bumi dengan mengelola dan memeliharanya. Karena manusia dalam melaksanakan tugas dan wewenang imarahnya sering melampaui batas, sering melanggar dan bahkan mengambil hak saudaranya, maka Allah meberikan solusi dengan cara bertaubat kepada-Nya.
Imaratul ardh yang berarti mengelola dan memelihara bumi, tentu saja bukan sekedar membangun tanpa tujuan apalagi hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tugas membangun justru merupakan sarana yang sangat mendasar untuk melaksanakan tugasnya yang inti dan utama yaitu ibadatullahin (beribadah kepada Allah). Lebih dari itu adalah sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat yang menjadi tujuan utama.
Maka dari pengkajian ini dapat kita pahami, manusia dalam konsepsi Al Qur’an adalah manusia ibadatullah dan imaratul ardh. Dan kedua hal ini sangat berkaitan antara satu dan yang lainnya. Hal ini yang telah di contohkan oleh Allah melalui Rasulullah saw. Ketika hijrah ke Madinah, sesampainya di tujuan (Madinah) Rasulullah membangun bangunan monumental dan bersejarah yang sampai hari ini masih dilestarikan bahkan terus di kembangkan. Dua bangunan yang dimaksud adalah masjid (Quba) dan pasar. Tidak seharusnya ada kesenjangan antara mssjid dan pasar karena pada dasarnya kedua hal tersebut menyatu dalam jiwa manusia.
Allah swt. Dalam Al Qur’an memerintahkan kepada manusia agar mampu berpacu dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Perintah ini dipahami untuk menumbuhkan sikap dan prilaku kompetisi untuk mencapaik al khairat/ kebaikan, yang berarti memerlukan dinamika tinggi dan berkualitas, serta dibutuhkan juga wawasan kreatif dan inovatif yang luas, disamping daya analisis untuk mengantisipasi proses transformasi menuju masa depan.
Pembangunan kualitas manusia dipahami sebagai metode yang menitik beratkan pada program-program. Tapi wujud dari dinamika ini adalah gerakan- gerakan yang selalu menuntut kita  untuk giat bekerja dan berbuat yang terbaik. Hal ini sebagaimana yang di contohkan oleh Rasulullah saw. Dalam kesehariannya, Rasul selalu mempunyai kesibukan bahkan sampai membantu istri-istri beliau dalam menjait baju dan sendal. Diriwayatkan dalam hadis: ” seberat-berat siksa manusia pada hari kiamat adalah orang yang hanya dicukupi orang lain dan menganggur”.
Kualitas manusia pada dasarnya ditentukan oleh potensi dirinya. Potensi diri yang membentuk kualitas ini meliputi berbagai aspek kehidupan. Secara umum potensi yang telah diberikan oleh Allah swt. Kepada setiap manusia mukallaf (aqil, baligh) adalah potensi akal dan fisip. Potensi akal berkembang menjadi ilmu pengetahuan sedangkan potensi fisik berkembang menjadi ketrampilan, semangat berkarya dan lainya.
Allah swt. Berfirman QS. Al Qashsas 26: “sebaik-baik orang yang kamu serahi tugas mengupayakan sesuatu adalah orang yang berpotensi dan berkemampuan menerima amanat serta terpercaya”. Dalam ayat ini mengandung pesan bahwa setiap usaha apapun untuk mencapai prestasi, menuntut adanya potensi dan amanah yang membentuk kualitas yang baik.

Sumber:

Rabu, 11 September 2019

Kebenaran Dan Kebetulan /Tugas 01


KEBENARAN DAN KEBETULAN

Jika ditelaah kebenaran menurut KBBI adalah suatu hal yang sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya, sedangkan kebetulan adalah hal atau kejadian yang terjadi dengan tidak sengaja seperti . Perlu diketahui bahwa sebenarnya kebenaran dan kebetulan memiliki pengertian yang berbeda. Makna Kebenaran atau AL-HAQ secara secara etimologi Lafadz "hak" memiliki beberapa arti yaitu, Ketetapan dan kepastian, sebagaimana disebutkan dalam QS Yaasin ayat 7 :
”Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman”
Dapat disimpulkan bahwa kebenaran adalah hal atau kedaan yang dapat dipertanggung jawabkan adanya, sedangkan kebetulan belum tentu dapat dipertanggung jawabkan adanya. Seperti halnya contoh, kebenaran ada yang bersifat mutlak yang datangnya dari ketetapan atau kebenaran Allah SWT.
 Dan katakanlah: " Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. QS Al-Kahfi : 29
Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu”. QS Yunus : 94
Ada juga kebenaran sementara yang artinya kebenaran ini dibuat oleh manusia  mengenai tradisi atau ilmu pengetahuan dan oleh orang penting tentang hukum. Kebenaran ini sifatnya masih sementara atau dapat berubah sesuai dengan hasil penelitian. Kebenaran sementara dapat dihapus semua, digabungkan antara penemuan yang baru dan lama, atau tetap dengan hasil penelitian lama karena hasilnya lebih baik dari penelitian yang baru. Artinya mereka-mereka yang belum yakin terhadap kebenaran yang datangnya dari Allah akan membuktikannya terlebih dahulu sebelum mereka benar-benar mempercayainya.
Kebenaran yang berkaitan dengan penemuan-penemuan disebut dengan kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah contohnya sama seperti kisah nabi adam dan revolusi manusia yang awalnya berbentuk kera terus menjadi manusia. Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat. Setelah terbentuk kemudian dimasukkan roh kedalamnya. Dan Allah menciptakan manusia pertama yaitu Nabi Adam yang langsung berupa manusia, sedangkan dalam ilmu pengetahuan dijelaskan bahwa manusia tercipta karena yang awalnya kera berevolusi menjadi manusia. 
Perkembangan berikutnya bisa dilihat di Surat An Nisaa’ ayat 1.
“Wahai manusia! bertakwalah kepada tuhan mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu(Adam), dan( Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada allah dengan nama-nya kamu saling meminta dan (perihalalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”.
Dari diri nabi Adam lalu diciptakan isterinya, kemudian mereka berkembang biak sampai banyak. Dan sampai sekarang tidak berubah,  tidak terjadi revolusi.
 “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Qs 4:1)
 Dan terakhir kebenaran ilmiah mengenai penciptaan manusia di surah At-Tin ayat 04 Allah berfirman
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At- Tin:04)
Sudah jelas dalam Al-Qur’an bahwa Allah menciptakan manusia sudah dalam bentuk yang sebaik-baiknya jadi manusia itu tidak sama dengan kera dan hewan yang lainnya. Jadi, kesimpulannya adalah Allah telah menciptakan kita dengan kebenaran sebagai umat manusia sesuai yang dijelaskan pada Al-Qur’an.
Sedangkan arti kebetulan adalah sesuatu yang tidak dengan sengaja terjadi, di dalam akidah Islam tidak ada yang dikatakan sebagai kebetulan kerana semuanya merupakan takdir daripada Allah SWT. Setiap yang berlaku sekecil mana sekalipun tidak terlepas daripada khodrat Allah SWT. Akan tetapi boleh katakan kebetulan yang dimaksudkan oleh orang kita ialah berbetulan dengan takdir, dalam artian yang berbetulan dengan takdir atau tidak sengaja tidak sesuai dengan rencana kita. Dengan perkataan yang lain ialah sesuatu yang di luar kemampuan kita berlaku dan berbetulan dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT.
Ulama membagikan perbuatan kita kepada dua, pertama disebut sebagai ikhtiari dan kedua disebut sebagai idthirori. Ikhtiari ialah yang kita lakukan dengan pilihan kita dan usaha kita seperti kita memilih untuk memakan nasi atau roti. Maka ini di dalam kawalan kita. Adapun idthirori ialah sesuatu yang di luar bidang kuasa kita yang berlaku dengan ketentuan Allah SWT seperti kelilipan mata dan sebagainya.


Sumber: