Manusia Makhluk Ibadat
(khilmi mustofa)
Ibadah
pada dasarnya merupakan bentuk pengapdian diri kepada tuhannya untuk kebutuhan
dan keutamaan manusia itu sendiri. segala Perbuatan yang
dilakukannya adalah semata-mata hanya untuk mengharap ridho Allah. Meskipun
tidak semua bisa berjalan sesuai kaidah. Karena manusia memang pada dasarnya
diciptakan dengan banyak kekurangan. Manusia juga memiliki akal dan hawa nafsu
yang terkadang sangat susah untuk dikendalikan. Berbeda dengan malaikat yang
memang diciptakan hanya untuk mentaati segala perintah Allah.
Sebagaimana
firman-Nya:
“وماخلقت الجن والانسالالتعبدون”
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka mengabdi kepada-Ku”[QS Al-baqoroh].
Manusia juga sudah
dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa manusia adalah khalifah di bumi. Namun manusia
juga yang akan merawat dan menyebabkan kerusakan di bumi. Semua bergantung pada
manusia itu sendiri. Makhluk yang menempati bumi tidak hanya manusia, melainkan
juga makhluk-makhluk lain seperti hewan, dan sejenis jin dan sebagainya. Iblis yang senantiasa menyesatkan manusia. Iblis
yang sudah berjanji kepada Allah, bahwa akan terus menggoda manusia untuk terus
berada di jalan yang salah. Mereka yang membisikkan kata-kata negatif yang
menjurus pada perbuatan dosa. Bagaimana cara kita untuk bisa menahan diri
melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, bahkan menjurus ke perbuatan dosa dan
bagaimana cara kita untuk tetap memperkuat iman serta menjaga segala perbuatan
baik agar senantiasa istiqomah di jalan yang benar.
Ibadah
berasal dari kata 'abada yang arti bebasnya menyembah atau mengabdi merupakan
bentuk penghambaan manusia sebagai makhluk kepada Allah SWT. Ibadah memiliki aspek yang sangat luas.
Sehingga segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala, baik berupa
perbuatan maupun ucapan, secara lahir maupun batin, semuanya merupakan ibadah. Sedangkan
lawan dari ibadah adalah ma'syiat. Kita
sering tertipu sehingga selalu dirundung dalam keraguan, kebingungan serta
kegalauan di saat menghadapi tuntutan agar memelihara “alat-Rezeki” yang telah
diamanahkan oleh Allah kepada kita sebagai hamba-Nya untuk dijadikan sebagai
“Ladangnya Akhirat” yang paling subur.
Selama
kita masih ditempatkan oleh Allah dalam maqom manusia masih punya kesempatan
untuk menambah amal perbuatan baik dan beribadah. Karena sebenarnya yang
lebih penting untuk diperhatikan adalah masalah Ibadah Mu’amalah, karena
ternyata malah bentuk ibadah ini justru dijadikan sebagai tolok ukur dari kualitas
nilai dari setiap Ibadah Khusus yang telah kita lakukan selama ini.
Manusia
diciptakan oleh Allah, dengan dibekali potensi dan infrastruktur yang sangat
unik. Keunikan dan kesempurnaan bentuk manusia ini bukan saja dilihat dari
bentuknya, akan tetapi juga dari karakter dan sifat yang dimiliki oleh manusia.
Sebagai ciptaan, manusia dituntut memiliki kesadaran terhadap posisi dan
kedudukan dirinya di hadapan Tuhan. Dalam konteks ini, posisi manusia dihadapan
Tuhan adalah bagaikan “abdi” dengan “raja”, yang harus menunjukan sifat
pengabdiaan dan kepatuhan.
Sebagai
agama yang haq, Islam menegaskan bahwa posisi manusia di dunia ini adalah
sebagai ‘abdullah (hamba Allah). Posisi ini menunjukan bahwa salah satu tujuan
hidup manusia di dunia adalah untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah, taat
dan patuh terhadap seluruh perintah Allah, dengan cara menjalankan seluruh
perintah-perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya dalam segala aspek
kehidupan.
Tugas dan
tanggung jawab manusia sebenarnya telah nyata dan begitu jelas sebagaimana
terkandung di dalam Al-Quran yaitu tugas melaksanakan ibadah mengabdikan diri
kepada Allah dan tugas sebagai khalifah-Nya dalam makna mentadbir dan mengurus
bumi ini mengikut undang-undang Allah dan peraturan- Nya
Tugas sebagai khalifah
Allah ialah memakmurkan bumi ini dengan mentadbir serta mengurusnya dengan
peraturan dan undang-undang Allah. Tugas beribadah dan mengabdi diri kepada
Allah dalam rangka melaksanakan segala aktiviti pengurusan bumi ini yang tidak
terkeluar dari garis panduan yang datang dari Allah swt. dan dikerjakan segala
kegiatan pengurusan itu dengan perasaan ikhlas kerana mencari kebahagian dunia
dan akhirat serta keridhaan Allah.
Beribadah tidaklah
sulit sebenarnya. Hanya perlu keikhlasan dan ketulusan dalam diri kita.
Sekecil-kecilnya, dengan contoh seperti ini, perbuatan baik tidak akan ada
nilainya jika dilakukan tanpa mengucap Bismillah, dan apabila diucapkan maka
sudah dianggap ibadah.
Makna
beribadah sebagaimana dikemukakan di atas (mentaati segala perintah dan
menjauhi larangan Allah) merupakan makna ibdah secara umum. Dalam tataran
praktis, ibadah secara umum dapat diimplementasikan dalam setiap aktivitas yang
diniatkan untuk menggapai keridlaan-Nya, seperti bekerja secara professional,
mendidik anak, berdakwah dan lain sebagainya. Dengan demikian, misi hidup
manusia untuk beribadah kepada Allah dapat diwujudkan dalam segala aktivitas
yang bertujuan mencari ridla Allah.
Sedangkan
secara khusus, ibadah dapat dipahami sebagai ketaatan terhadap hukum syara’
yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. Hukum syara’ ini selalu berkaitan
dengan amal manusia yang diorientasikan untuk menjalankan kewajiban ‘ubudiyah
manusia, seperti menunaikan ibadah shalat, menjalankan ibadah puasa, memberikan
zakat, pergi haji dan lain sebagainya.
Berdasarkan
uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan hidup manusia yang
pertama adalah menyembah kepada Allah. Dalam pengertian yang lebih sederhana,
tujuan ini dapat disebut dengan “beriman”. Manusia memiliki keharusan menjadi
individu yang beriman kepada Allah (tauhid). Beriman merupakan kebalikan dari
syirik, sehingga dalam kehidupannya manusa sama sekali tidak dibenarkan
menyekutukan Allah dengan segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini (Syirik).
Disamping itu, dalam
beribadah akan ada kaitannya antara iman kita, ilmu, dan amal. Dalam islam,
antara iman, ilmu dan amal terdapat hubungan yang terintegrasi kedalam agama islam.
Dalam agama islam terkandung tiga ruang lingkup, yaitu akidah, syari’ah dan
akhlak. Sedangkan iman, ilmu dan amal barada didalam ruang lingkup tersebut.
Iman berorientasi terhadap rukun iman yang enam, sedangkan ilmu dan amal
berorientasi pada rukun islam yaitu tentang tata cara ibadah dan pengamalanya.
Sumber;
Tidak ada komentar:
Posting Komentar