MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK ALLAH
(khilmi mustofa)
Serangkaian
percobaan, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan
teknologi mutakhir, telah mengungkapkan tanpa ragu bahwa alam semesta memiliki
permulaan. Para ilmuwan telah memastikan bahwa alam semesta berada dalam
keadaan yang terus mengembang. Dan mereka telah menyimpulkan bahwa, karena alam
semesta mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur dalam waktu, alam
semesta ini tentulah memulai pengembangannya dari sebuah titik tunggal.
Sungguh, kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan saat ini adalah alam
semesta bermula dari ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut “Dentuman
Besar” atau Big Bang.
Adapun
ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT-lah yang telah menciptakan alam
semesta adalah :
[1] Q.S. Al-Sajdah :4
Artinya: “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan
bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian dia
bersemayam di atas Arsy. Kamu semua tidak memiliki seorang penolong dan pemberi
syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak memperhatikannya ?”(Q.S.
Al-Sajdah [32] :4 )
Ayat
ini menerangkan bahwa Tuhan yang telah menurunkan Alquran kepada Muhammad saw
itu adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara
keduanya dalam enam masa. Yang dimaksud dengan enam masa dalam ayat ini
bukanlah hari (masa) yang dikenal seperti sekarang ini, tetapi adalah hari
sebelum adanya langit dan bumi. Hari pada waktu sekarang ini adalah setelah
adanya langit dan bumi serta telah adanya peredaran bumi mengelilingi matahari
dan sebagainya.
[2] Q.S. Al-Kahfi :51
Artinya:
“aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan
anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula)
penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah aku mengambil orang-orang yang
menyesatkan itu sebagai penolong.”(Q.S. Al-Kahfi [18] :51 )
Dalam
ayat ini Allah SWT menerangkan kekuasaan-Nya, dan bahwa setan itu tidak berhak
untuk menjadi pembimbing atau pelindung bagi manusia.
Allah
SWT menegaskan bahwa iblis dan setan-setan itu tidak dihadirkan untuk
menyaksikan penciptaan langit dan bumi ini, di kala Allah menciptakannya,
bahkan tidak pula penciptaan dari mereka sendiri, dan tidak pula sebagian
mereka menyaksikan penciptaan sebagian yang lain. Bilamana mereka tidak hadir
dalam penciptaan itu, bagaimana mungkin mereka memberikan pertolongan dalam
penciptaan tersebut.
Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku
akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur
hitam yang diberi bentuk.
Di
dalam ayat-ayat Al-Quran tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia
dari bahan dasar tanah yang kemudian dengan kekuasaan dan hukum-hukumnya
dibentuk rupa dan beragam fungsi dari fisik yang ada dalam tubuh manusia. Hal
ini tentunya dilakukan Allah pada manusia pertama yaitu Nabi Adam . Hingga
setelah itu ada proses penciptaan manusia berupa hukum biologis.Manusia diberi
hak hidup oleh Allah swt. Bukan untuk hidup semata, melainkan ia diciptakan
oleh Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Dalam rangka pengabdian inilah, manusia
dibebani kewajiban/taklif yang sangat erat kaitannya dengan usaha dan kesungguhan
manusia itu sendiri.
Selanjutnya
dalam kehidupan manusia selalu dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan
satu dan yang lainnya. Oleh karena itu manusia dalam berikhtiar melaksanakan
taklif, berkewajiban mengendalikan dan mengarahkan faktor-faktor yang
mempengaruhi kehidupannya, guna mencapai kebahagian yang hakiki yaitu
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Manusia
atau yang biasa disebut oleh Allah dalam Al Qur’an dengan sebutan bani adam
mempunyai kedudukan yang sangat mulia, bahkan mahluk Allah yang paling mulia
diantara mahluk-makhluk Allah yang lain. Nilai lebih yang diberikan Allah ini
merupakan pembeda manusia dengan ciptaan Allah yang lain. Namun “kemulian/
karamah” manusia ini ada nilai konsekuensi yang berat Karena pada diri manusia
terdapat nafsu yang tidak selamanya dapat diajak kompromi untuk menjalankan
ketaatan kepada Allah swt.
Nafsu
inilah yang sering membuat manusia tidak konsisten pada nilai kemanusiaanya dan
bahkan sering sekali menelantarkannya dalam kehinaan. Diantara pemberiaan Allah
kepada manusia adalah diberikanya kemampuan fisik dan berfikir. dua kemampuan
ini yang pada dasarnya akan menumbuhkan sumber daya manusia, sekaligus akan
memacu manusia untuk mencapai kualitas terbaiknya, bila di barengi dengan
kemauan untuk berusaha.
Disisi
lain meskipun memiliki nilai karamah/ kemuliaan, manusian dalam Al-Qur’an tetap
sebagai abd/ hamba. seorang hamba berarti dia punya tanggung jawab yang melekat
pada dirinya. Manusia dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah dia mendapatkan
tanggung jawab (taklif) yang harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan
kemampuannya.
Sejauahmana
manusia mampu memenuhi taklif, sejauh itu pula ia mempertahankan nilai
kemuliaanya/ karamahnya. Sejauhmana manusia mengabdikan dirinya kepada Allah
maka selama itu juga ia melaksanakan tanggung jawabnya sebagai abd. Ini
mengandung arti bahwa manusia didalam hidup dan kehidupannya selalu harus
beribadah kepada Allah swt. Karena Allah tidak menciptakan jin dan manusia
kecuali untuk beribadah kepada-Nya. QS. Azzariyat 56: “Tidak Aku jadikan jin
dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu”.
Meskipun
manusia berstatus sebagai hamba, tapi manusia diberi kedudukan sebagai khalifah
Allah dengan berbagai tingkat dan derajatnya, dalam hubungannya secara bertikal
dengan Allah ataupun hubungan horizontal sejajar antar sesama manusia. Khalifah
sebagai pengganti, ia diberi wewenang terbatas sesuai dengan potensi diri dan
posisinya. Namun manusia harus faham bahwa wewenang itu pada dasarnya adalah
tugas yang harus di emban dengan penuh tanggung jawab.
Tugas
khalifah dalam Al Qur’an biasa disebut imaratul ardh (memakmurkan bumi) dan
ibadatullah (beribadah kepada Allah). Allah menciptakan manusia dari bumi ini
dan menugaskan manusia untuk melakukan imarah dimuka bumi dengan mengelola dan
memeliharanya. Karena manusia dalam melaksanakan tugas dan wewenang imarahnya
sering melampaui batas, sering melanggar dan bahkan mengambil hak saudaranya,
maka Allah meberikan solusi dengan cara bertaubat kepada-Nya.
Imaratul
ardh yang berarti mengelola dan memelihara bumi, tentu saja bukan sekedar
membangun tanpa tujuan apalagi hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tugas
membangun justru merupakan sarana yang sangat mendasar untuk melaksanakan
tugasnya yang inti dan utama yaitu ibadatullahin (beribadah kepada Allah).
Lebih dari itu adalah sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat
yang menjadi tujuan utama.
Maka
dari pengkajian ini dapat kita pahami, manusia dalam konsepsi Al Qur’an adalah
manusia ibadatullah dan imaratul ardh. Dan kedua hal ini sangat berkaitan
antara satu dan yang lainnya. Hal ini yang telah di contohkan oleh Allah
melalui Rasulullah saw. Ketika hijrah ke Madinah, sesampainya di tujuan
(Madinah) Rasulullah membangun bangunan monumental dan bersejarah yang sampai
hari ini masih dilestarikan bahkan terus di kembangkan. Dua bangunan yang
dimaksud adalah masjid (Quba) dan pasar. Tidak seharusnya ada kesenjangan
antara mssjid dan pasar karena pada dasarnya kedua hal tersebut menyatu dalam
jiwa manusia.
Allah
swt. Dalam Al Qur’an memerintahkan kepada manusia agar mampu berpacu dalam
kebaikan (fastabiqul khairat). Perintah ini dipahami untuk menumbuhkan sikap
dan prilaku kompetisi untuk mencapaik al khairat/ kebaikan, yang berarti
memerlukan dinamika tinggi dan berkualitas, serta dibutuhkan juga wawasan
kreatif dan inovatif yang luas, disamping daya analisis untuk mengantisipasi
proses transformasi menuju masa depan.
Pembangunan
kualitas manusia dipahami sebagai metode yang menitik beratkan pada
program-program. Tapi wujud dari dinamika ini adalah gerakan- gerakan yang
selalu menuntut kita untuk giat bekerja
dan berbuat yang terbaik. Hal ini sebagaimana yang di contohkan oleh Rasulullah
saw. Dalam kesehariannya, Rasul selalu mempunyai kesibukan bahkan sampai
membantu istri-istri beliau dalam menjait baju dan sendal. Diriwayatkan dalam
hadis: ” seberat-berat siksa manusia pada hari kiamat adalah orang yang hanya
dicukupi orang lain dan menganggur”.
Kualitas
manusia pada dasarnya ditentukan oleh potensi dirinya. Potensi diri yang
membentuk kualitas ini meliputi berbagai aspek kehidupan. Secara umum potensi
yang telah diberikan oleh Allah swt. Kepada setiap manusia mukallaf (aqil,
baligh) adalah potensi akal dan fisip. Potensi akal berkembang menjadi ilmu
pengetahuan sedangkan potensi fisik berkembang menjadi ketrampilan, semangat
berkarya dan lainya.
Allah
swt. Berfirman QS. Al Qashsas 26: “sebaik-baik
orang yang kamu serahi tugas mengupayakan sesuatu adalah orang yang berpotensi
dan berkemampuan menerima amanat serta terpercaya”. Dalam ayat ini
mengandung pesan bahwa setiap usaha apapun untuk mencapai prestasi, menuntut
adanya potensi dan amanah yang membentuk kualitas yang baik.
Sumber:
https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2014/01/05/bagaimana-al-quran-menjelaskan-tentang-alam-semesta/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar